Remember Me..

Gambar

Title       : remember me

Author  : Neul Hyo

Cast       : Ji Eun, Wooyoung

Genre   : Romance

Maaf buat para reader yang udah nungguin FF ini di post. Kemaren sempet ada insiden yang buat molor nge-post FF ini. Sekali lagi saya minta maaf.

Oh iya, maaf juga kalo judul sama ceritannya agak ngak nyambung, semoga kalian tetep suka ya sama FF ini

Happy Reading…

———————-

Ji Eun POV

Aku berjalan sendirian menyusuri pinggir pantai sambil menikmati deburan ombak yang sesekali mengenai kakiku. Aku berhenti disebuah batu besar yang berada tepat didepanku. Batu hitam yang berdiri kokoh didepanku ini selalu menjadi temanku saat aku senang maupun sedih. Hampir setiap hari aku pergi kesini, tapi setiap kali aku pergi kesini perasaan itu selalu muncul lagi, perasaan rindu pada seorang namja yang telah pergi selama 9 tahun, seorang namja yang membuatku tersenyum lagi setelah kematian Appa.

Perlahan aku mulai menaiki batu hitam yang ada didepanku ini. Berharap dia kembali saat aku pergi kesini. Namun usahaku selama ini selalu nihil, dia tak pernah kembali. Walaupun hanya seorang teman dari masa kecilku, dia bahkan lebih keren dari pada seorang artis. Pesonanya membuatku terhipnotis hingga saat ini, aku tak pernah menemukan sesosok namja seperti dirinya.

Pukul 16.20, satu jam telah kulewati ditempat ini. Menikmati birunya air laut, deburan ombak dan tiupan angin yang sesekali menerbangkan rambutku. Pantai ini memang tidak terlalu ramai, karena tempat  ini terletak jauh dari kota, bahkan tidak banyak orang yang tau tentang tempat ini. Itu yang menyebabkan pantai ini sagat menarik untukku. Selain indah tempat ini juga masih asri, suasana yang tenang juga membuat hatiku nyaman bila sedang berada ditempat ini.

Tiba-tiba terdengar deru mobil yang berhenti tidak jauh dari tempatku duduk, yang diikuti dengan suara orang membanting pintu mobi.  Aku menoleh kearah sumber suara itu, terlihat seorang namja yang keluar dari dalam mobil, sambil sesekali memukul kaca bagian samping mobil. Aku berfikir mungkin orang itu sedang putus cinta atu habis dimarahi oleh orangtuanya.

Pukul 16.30, aku memutuskan untuk pulang. Hari ini harapanku pupus lagi. Dia tak kembali sampai sampai saat ini.

Perlahan aku mulai berjalan meninggalkan batu hitam itu. Lalu berjalan menyusuri trotoar yang lengang, sambil sesekali menendang sesuatu yang ada didepanku. Sebuah botol pocari sweat kutendang dengan sekuat tenanga. Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengerang kesakitan. Karena refleks aku pun menoleh, ternyata namja yang tadi datang terkena botol pocari yang kutendang. Aku  berlari kearah namja itu untuk minta maaf.

“mianhaeyo..aku tidak sengaja!” Sambil membungkukkan badanku dihadapan namja itu, berharap agar dia tidak marah dan memaafkan kesalahanku.

“ ehm.. ne, lain kali hati-hati. Jangan melamun saat dijalan dan menendang botol lagi. Ini bisa membahayakan orang lain !” jawab namja itu bijak

Perlahan aku menaikan pandanganku, mataku terhenti pada sebuah tulisan yang ada di atas saku namja itu, mencoba membacanya sekali lagi siapa tau ada yang salah dengan penglihatanku. Berkali – kali aku membaca tulisan itu, namun tulisan itu tidak berubah sama sekali. sekali lagi aku mengucek mataku dan melihat tulisan itu lagi, tapi tetap tulisan itu tidak berubah.

“wae, apa ada yang salah ?

“ani ! Apa namamu Jang Wooyoung ?

“ehm.. memang kenapa ? apa aku  mengenalmu?

“ Benarkah kau Jang Wooyoung ?

“Iya benar ! apa ada masalah nona ?

Tanpa menghiraukan perkataan namja itu. Aku bergelut dengan barang-barang di dalam tasku, mencari sebuah benda yang mungkin bisa membuatnya mengingatku. Sebuah boneka beruang yang bertuliskan Wooyoung Oppa. Segera setelah menemukan benda yang aku cari, aku menunjukkannya pada sesosok namja di depanku.

Sesaat dia mengamati boneka yang aku pegangang, kemudian mengambilnya dari tanganku, dan kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil sesuatu. Setelah 2 menit ia mengobrak abrik barang – barang didalam mobilnya, ia keluar dengan tangan kiri mengenggam bonekaku dan tangan kanan menggengam boneka  beruang  yang menggunakan syal berwarna pink.

“ apa ini milikmu ?” namja itu bertanya padaku sambil memberikan boneka beruang yang baru saja ia ambil dari dalam mobil.

Sejenak aku mengamati boneka beruang itu, dan menemukan namaku pada bagian syalnya. Aku mengangguk pelan sambil menatap mata namja itu.

“jadi kau Lee Ji Eun ? aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi !

“iya aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, setelah 9 tahun kau menghilang tanpa kabar !

“mianhae… bukankah kau gadis yang tadi duduk di batu itu ?

“ne..

“ apa kau masih suka menungguku disana ?

“tentu saja, hampir setiap hari aku pergi kesana, untuk menunggumu, tapi kenyataannya kau tidak pernah datang !

“tapikan hari ini aku datang !

“kenapa kau membiarkan aku menunggu selama ini, 9 tahun aku mencari orang sepertimu tapi tidak ada yang sebaik dirimu ! kau ini benar-benar jahat !

“maafkan aku yang pergi tanpa memberimu kabar, maaf karena telah membuatmu menunggu selama itu ! bukan kemauanku untuk pergi, tapi ini karena Appa.

“ehm.. baik aku akan memaafkan dirimu, tapi dengan satu syarat !

“syarat ? baiklah aku akn menuruti semua permintaanmu !

“belikan aku es krim yang ada didekat sekolah kita dulu ! apa kau sanggup ?

“baiklah, cepat naik ke mobilku !

“gumawo.. sepertinya kau tadi sedang marah ?

“ya begitulah.. aku bertengkar hebat dengan teman-temanku.

“owh begitu..

__________________________________________________

Flash back

10 tahun yang lalu Lee Ji Eun adalah seorang gadis kecil yang periang, dia pintar bernyanyi dan bermain musik. Saat usianya baru menginjak 4 tahun dia sudah bisa memainkan piano dengan fasih.  Pada ulang tahun ke – 5, ayahnya menghadiahkan sebuah gitar klasik berwarna pink. Ji eun kecil sangat menyukai gitar tersebut. Setiap sore hari ayah mengajari Ji Eun berain gitar, hebatnya hanya dalam waktu 3 bulan Ji Eun sudah bisa  memainkannya dengan lumayan baik.

Namun gitar itu menjadi hadiah terakhir dari ayahnya. Karena ayah Ji Eun mengalami kecelakaan saat akan pulang dari kantor. Waktu itu usia Ji Eun baru 5,5 tahun. Dia masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang ayah yang sangat ia cintai.

Sejak saat itu Ji Eun kecil menjadi seorang gadis yang pendiam dan lebih sering menyendiri. Dia hampir bisa melakukan semua hal sendirian. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang bocah laki-laki yang membuat hidupnya berubah sedikit lebih baik, bocah itu bisa membuat Ji Eun kembali ceria.

Awal mereka bertemuaalah sebuah bencana bagi bocah laki-laki itu, karena dia tidak sengaja terkena botol Pocari Sweat yang ditendang oleh Ji Eun. Waktu itu Ji Eun baru saja pulang dari pantai, saat itu suasana hati Ji Eun sedang kacau, dia sedih, marah dan merasa bersalah. Ji Eun sedih karena tidak bisa bertemu ayahnya lagi, marah karena ayahnya telah pergi tanpa berpamitan untuk selamanya, merasa bersalah karena Ji Eun yang menyuruh ayahnya agar cepat pulang untuk mengajarinya bermain gitar.

Tiba-tiba Ji Eun menendang sebuah botol Pocari sweat yang berada tepat di depan kaki kanannya. Tak lama setelah Ji Eun menendang botol itu, terdengar  erangan seseorang. Namun Ji Eun tak memperdulikannya, dia hanya berjalan dan terus berjalan. Hingga seorang bocah laki-laki menghampirinya  dengan membawa  botol Pocari sweat yang tadi ditendang oleh Ji Eun. Dia mebentak Ji Eun dengan keras, dengan memasang muka sinis serta kesakitan.

“ hey kau, berhenti !

Karena kaget Ji Eun pun berhenti, dan menatap bocah laki-laki yang menyuruhnya untuk berhenti. Seperti biasa Ji Eun hanya memasang muka datar tanpa ekspresi.

“hey, kenapa kau menimpukku dengan botol ini, apa kau tidak tau kalau ini sakit, hah..!

Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Ji Eun, dia hanya kembali menatap mata bocah laki-laki yang ada didepannya itu dengan tatapan datar. Tiba-tiba ada ada sebuah cairan yang mirip dengan kristal menetes dari kelopak mata Ji Eun, namun ia tetap tidak bergeming ia tetap berdiri tegak dihadapan bocah laki-laki yang membentaknya beberapa menit yang lalu. Sepasang mata  gadis kecil itu masih terus memperhatikan mata seorang bocah laki-laki yang ada didepannya.

Bocah laki-laki itu merasa kebingungan dengan tingkah seorang gadis kecil yang ada di depannya, terlebih saat gadis kecil itu tiba-tiba memeluknya. Ini memang terlalu aneh untuk seorang bocah yang baru berusia 8 tahun, ini lebih terlihat aneh karena mereka tak saling kenal satu sama lain. Namun bocah laki-laki itu berusaha untuk bersikap lebih dewasa, ia tetap membiarkan seorang gadis kecil yang tidak ia kenal menangis dipelukannya, sambil sesekali mengelus kepala gadis kecil itu perlahan.

Setelah tangis gadis kecil itu mereda, bocah laki-laki itu mengajaknya pergi ke sebuah batu besar yang ada di pinggir pantai. Disana mereka mulai berkenalan..

“Jang Wooyoung imnida ! ucap bocah laki-laki itu sambil membungkuk formal

“Lee Ji Eun imnida ! balas Ji Eun sambil membungkuk pelan

Disitu mereka bercerita tentang kehidupan mereka satu sama lain. Ji Eun melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00, ia pun memutuskan untuk pulang.

“ sepertinya aku harus pulang !

“ apa kau tidak bisa tinggal beberapa menit lagi ?

“ seperinya tidak…! aku sudah terlambat, ibuku dirumah sendirian, jadi aku harus pulang !

“baiklah kalau begitu, tapi kita bertemankan ? sambil mengulurkan jari kelingkinya ke arah Ji Eun

Ji eun tidak menjawab apapun, dan mengulurkan jari kelingkingnya. Sekarang jari kelingking mereka saling bertautan.

“bisakah kita bertemu lagi ditempat ini ?

“entahlah, akan ku pertimbangkan, aku pulang dlu ya ,annyeong !

Ji Eun kecil berlari meninggalkan  Wooyoung yang masih terpaku di tempat itu.

“ gumawo!! Ucap Ji Eun sambil berlari semakin menjauh

_______________________________

Sejak saat itu Ji Eun dan Wooyoung semakin dekat, walaupun usia mereka mereka terpaut satu tahun tapi mereka tetap akrap. Mereka juga bisa bersikap lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusia mereka.

Saat Ji Eun berulang tahun ke- 8 Wooyoung mengajak Ji Eun kepantai, lebih tepatnya ke batu besar yang sering mereka kunjungi bersama. Disana Wooyoung memberikan hadiah ulang tahun untuk Ji Eun.

“ selamat ulang tahun Ji Eun!

“ gumawo Oppa !

“ nado, ini untukmu! Sambil memberikan sebuah kotak berukuran tidak terlalu besar yang dibalut dengan kertas berwarna pink yang dihiasi pita berwarna ungu.

“apa ini ? sambil menerima kotak yang diberikan oleh Wooyoung

“buka saja!

“ ehm.. baiklah, tapi ini bukan bom kan ?

“tentu saja bukan, kau pikir aku ini teroris, hah..!!

“kau kan suka iseng, siapa tau !

“ daripada kita terus berdebat seperti ini, lebih baik kau buka saja untuk memastikannya !

Ji Eun membuka kotak itu perlahan , dia sangat terkejut saat melihat isi kotak yang diberikan Wooyoung. Ji Eun merasa senang sekaligus merasa bersalah karena telah menuduh Wooyoung yang tidak-tidak.

“ apa kau menyukainya ?

“ tentu saja, ini sangat bagus! Tapi kenapa 2 bukankah 1 sudah cukup ! bukankah ini sangat mahal, kalau kau hanya membeli satu bukankah itu bisa lebih hemat !

“ kau ini, kenapa kau selalu membawa prinsip hidupmu kemana kau pergi dan disituasi apapun ?bukankah kau menyukainya !

“ begini saja ini yang satu untukmu ! kau tulis namamu di syal bonekaku, dan aku akan menulis namaku di syal bonekamu.

“untuk apa..

“agar kita bisa ingat satu sama lain, meskipun kita berpisah!

“ehm.. terserah kau sajalah.. !

“ ingat! Jangan pernah memberikan boneka ini pada orang lain ! satu lagi jangan sampai boneka ini hilang, kalau sampai hilang akan kusuruh mencarinya sampai ketemu !

“iya.. baiklah adikku sayang..

Ji Eun mencium pipi seorang bocah laki-laki yang ada didepannya. Karena malu, pipi Wooyoung yang semula putih bersih berubah menjadi pink kemerahan.

“gumawo Oppa, ini hadiah dariku untuk mu…

Wooyoung tidak membalas perkataan Ji Eun, ia hanya melempar senyum manis untuk seorang gadis kecil yang berani mencium pipi seorang bocah laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya.

“ payah kau Oppa, baru dicium oleh satu orang saja sudah begini..! sambil menjulurkan lidahnya ke arah Wooyoung dan berlari menjauh.

Wooyoung yang tidak terima dengan kata-kata Ji Eun, langsung berlari mengejar Ji Eun yang terlihat semakin menjauh. Dari kecil mereka memang sudah terlihat serasi, Wooyoung adalah bocah laki-laki yang sangat tampan, ditambah dengan karismanya yang membuat teman-temannya terpesona. Sedangkan Ji Eun adalah seoang gadis kecil yang sangat cantik, ditambah dengan kepintarannya bernyanyi dan bermain musik. Terlebih saat Ji Eun tersenyum dia benar-benar terlihat seperti malaikat.

“ apa kau besok bisa ketempat ini lagi ?

“ akan aku usahakan, memang kenapa ?

“ ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu, besok !

“ apa ?

“ RAHASIA! Pokoknya jau harus datang besok !

_____________________________

Keesokan harinya …

“Aish .. kenapa dia lama sekali

Ji Eun mengetuk-ngetukkan kaki kanannya dengan jengah. Sesekali ia melirik jam tangan berwarna ungu muda yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Sudah hampir satu jam Ji Eun menunggu, namun bocah laki-laki itu tak kunjung menampakan batang hidungnya.

Kini dua jam telah berlalu, Ji Eun mulai gelisah karena Wooyoung tak kunjung datang. Sebenarnya Ji Eun tak ingin pulang namun karena dia janji pada ibunya untuk pulang cepat jadi dia memutuskan untuk pulang.Walaupun beribu pertanyaan terngiang dibenaknya.

Pagi harinya Ji Eun kembali ke pantai lagi. Berharap Wooyoung akan datang kali ini, dan tidak terjadi apa-apa padanya kemarin. Namun setelah tiga jam menunggu bocah itu tak kunjung datang. Kali ini Ji Eun benar-benar merasa khawatir dengan nasib bocah laki-laki yang selalu ada disampingnya itu. Tapi Ji Eun berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif, dan semua kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada bocah itu. Dan Ji Eun mencoba berfikir positif.

Satu minggu telah berlalu semenjak bocah laki-laki itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar.  Sejak saat itu Ji Eun kembali kekehidupannya yang dulu, menyendiri dan melakukan semua hal sendirian.

Hampir setiap hari Ji Eun membeli botol pocari sweat, dan hampir setiap hari pula ia menangis saat meminumnya. Botol itu mengingatkannya pada Wooyoung yang selalu membuatnya gembira. Ji Eun tidak pernah menyesal berkenalan dengan Wooyoung, karena bocah itulah yang membuat hidupnya berubah, berubah menjadi lebih baik. Walaupun kini Wooyoung tidak ada disampingnya lagi JI Eun tetap percaya kalau Wooyoung kan kembali.

________________________________________

Flash Back End

“ oh iya memang ada apa dengan Appa mu..?

“ waktu itu Appa dipindahkan ke Seoul dan aku harus ikut..

“ lalu kenapa kau tidak mengabariku dulu, kalau kau akan pergi ?

“ pagi itu sebenarnya aku ingin memberitahumu ,tapi ternyata ayah berangkat lebih awal. Bahkan aku tak tau kapan kami berangkat, yang aku tau keesokan paginy aku sudah tidak berada dikamarku lagi.

“ ehm.. aku mengerti.

Setelah mengendarai mobil kurang lebih 10 menit akhirnya kami sampai disebuah kedai es krim yang sangat sederhana, namun walau terlihat sederhana es krim ditempat  ini tidak kalah enak dengan kedai es krim yang ada dikota-kota besar.

“ OK. Kita sampai..

“ kau mau pesan apa ?

“ sama seperti waktu kita kecil dulu, kau masih ingat kan !

“ es krim vanila dengan krim coklat diatasnya dan ditaburi potongan strawberry !

“ untunglah kau masih mengingatnya

Ji Eun masuk kedalam kedai lebih dulu untuk memesan es krim kesukaannya dan Wooyoung. Disusul Wooyoung yang langsung duduk di sebuah bangku yang menghadap kejalan raya.

“ tempat ini sama sekali tidak berubah, setelah 9 tahun aku pergi.

“ kau juga tidak pernah berubah, selalu duduk ditempat ini. Apa kau mengingat tulisan ini ? sambil menunjuk sebuah tulisan yang terukir dimeja

“mwo.. tempat ini sangat menakjubkan, bahkan meja ini masih belum pernah diganti.

“ini yang membuatku menyukai tempat ini, tempat ini tidak akan mengganti perabotan yang ada sebelum pemiliknya berganti, jadi semua kenangan pengunjungnya akan selalu abadi di tempat ini.

Tak lama kemudian seorang Appa datang dengana membawa 2 mangkok eskrim

“ permisi ini pesanan kalian.

“ gumawo..

“ne.. apa ini pacarmu ? tanya Appa itu ramah

“ bukan, apa kau ingat Jang Woyoung ?

“ tentu saja, bukankah dulu dia sering kesini bersamamu, tapi bukankah dia sudah menghilang 9 tahun yang lalu ?

Wooyoung langsung berdiri dan memeluk Appa itu dengan gemas.

“ Appa gumawo..

“ kau ini siapa, kenapa kau memanggilku Appa

” aku Wooyoung, apakah Appa tidak mengenaliku

“ benarkah ? kemana saja kau selama ini ? dasar anak nakal. Sambil menjutak kepala Wooyoung

“ aduh sakit Appa, aku pergi keluar kota bersama keluargaku.

“ kenapa kau tidak memberi tahuku..

“ ceritanya panjang Appa..

Aku merasa gemas dengan tingkah laku kedua orang ini, mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak. Walaupun Appa yang kami panggil ditempat ini bukan Appa kami yang sesungguhnya. Tapi beliau sudah mengangap kami sebagai anaknya.

“ sudahlah cepat dimakan, sebelum semuanya meleleh..

“ baik Appa. Jawab Ji Eun dan Wooyoung hampir bersamaan.

Sebuah lagu dari CN.BLUE yang bejudul Love Night mengalun lembut dari ponsel berwarna pink yang ada digengamanku. Mataku melirik kearah layar ponsel yang berukuran cukup besar itu, tertulis “Uma-Call”. Aku buru-buru menangkat telpon itu

“ Yeoboseyo, ne.. Uma

“ Ji Eun bisakah kau pulang sekarang,

” Apa terjadi sesuatu ?

“ ………………..

” Uma.. Uma… Uma  apa kau bisa mendengarku..?

“ ne.. cepatlah pulang…

“ tut..tut..tut..

“ Oppa bisakah kau mengantarku pulang sekarang ?

“ ne.. ada apa ? apa terjadi sesuatu ?

” aku tidak tau, tiba-tiba telpone ini terputUs ..

________________________________

Aku buru-buru membuka pintu, dan berusaha mencari sesosok Eoma yang sangat aku sayangi. Aku mencari didapur, dikamar mandi, dikamarnya, sambil terus memanganggil “Uma”, berharap beliau dapat mendengarnya dan merespon perkataanku. Tapi aku tetap tidak bisa menemukan sosok Eoma itu. Aku mulai putus asa dan memasuki kamarku sendiri, Wooyoung yang ikut mencari dimana Eoma itu berada, hanya terduduk diam di sofa ruang tamu.

Aku memalingkan pandanganku kearah sisi sebelah kanan tempat tidurku, aku terkejut saat melihat sebuah tangan yang memegang gagang telepon diatas meja. Tangan itu sudah tak asing lagi bagiku, tangan berwarna putih langsat dengan cicin yang melingkar dijari manisnya. Aku berlari kearah sosok yang kukenal itu, aku menemukan seorang Eoma yang terbaring lemah diatas lantai, bahkan hembusan nafasnya hampir tidak terdengar olehku.

“ Uma… Uma.. Uma.. bangunlah,

“ Ji Eun-ya.. apa kau menemukan Uma mu…

“ ne.. bisakah kau membantuku untuk mengangkatnya keatas tempat tidur

“ ne.. hitungan ketiga kita angkat .Ok

“ Ok.

“ na, dul, set

“ gumawo Oppa, maaf sudah merepotkanmu.

“ anggap saja ini sebagai permintaan maafku untukmu, apa kita perlu membawa Uma ke rumah sakit, atau menelpon seorang dokter untuk datang kesini ?

“ ehm.. tidak perlu, tunggu sebentar aku akan mencari air hangat dan handuk untuk mengompres Uma.

___________________________________________

Keesokan paginya..

Sebuah pesan singkat dari nomor yang belum aku kenal sebelumnya.

“ Ji Eun-ah, bagaimana keadaan Uma sekarang, apakah demamnya sudah turun ? bolehkah aku pergi kerumahmu hari ini ?

Sebelum aku sempat membalas pesan itu, handphone-ku kembali berbunyi, kali ini bukan peringatan pesan masuk melainkan sebuah telpon masuk. Sebenarnya aku tidak terbiasa menerima telpon dari nomor yang tidak aku kenal. Aku terus bertanya pada diriku sendiri, apa aku harus mengangkatnya atau tidak. Dan akhirnya….

“ Yeoboseyo …

” Ji Eun-ah kenapa kau tidak membalas pesanku,

“ mianhae, kalau boleh tau kau ini siapa ?

“ ya.. apa kau tidak mengenaliku, bukankah baru kemarin kita bertemu.

“ Jang Wooyoung ? bagaimana bisa kau mendapatkan nomer telponku.

“ ne.. bukankah itu mudah, aku hanya tinggal mencarinya dibuku telpon kota Seoul

“ ehm, benar juga..

” bagaimana keadaan Uma-mu sekarang ?

“ sudah membaik, sekarang Uma sudah bangun dan sarapan denganku

“ benarkah, itu kabar baik. Apa aku bisa bicara dengannya sekarang

“ ne.. Uma, ada seseorang yang ingin bicara denganmu

“ Uma, bagaimana keadaanmu ?

“ aku baik-baik saja, Ji Eun siapa ini

“ Jang Wooyoung imnida, apa Uma mengingatku ?

“ Jang Wooyoung ? anak kecil yang sering pergi kepantai bersama Ji Eun ?

“ ne.. Uma hebat masih bisa mengenaliku..

“ tentu saja, anak yang menangis jika Es-krimnya direbut Ji Eun apa aku bisa melupakannya..

“ ya.. kenapa Uma mengingat hal buruk seperti itu !

“ memang apa yang bisa aku ingat selain hal itu, oh iya bagaimana kabarmu ?

” aku baik-baik saja, terlebih setelah aku bertemu dengan Ji Eun.

“ apa maksud perkataanmu tadi, apa kalian memiliki hubungan khusus ?!

“ hubungan khusus ?! apa maksud Uma ?

“ ah sudahlah, aku ingin menghabiskan sarapanku dulu, aku akan mengembalikannya pada Ji Eun

“ ehm.. Ok Uma selamat makan,

“ apa saja yang kalian bicarakan ?

“ rahasia, aku akan datang kerumahmu pukul 10.00 tepat,

………………………”

“dasar anak ini, menutup telpon sebelum aku sempat bicara, benar-benar tidak sopan, huft

__________________________

09.00 AM

“OK. Selesai

Membereskan rumah, mencuci pakaian, semua sudah aku lakukan. Tinggal membersihkan diriku sendiri. Sabun mandi, shampo, pasta gigi, kini aku mulai bergelut dengan hal yang paling aku sukai, mandi total. Aku menikmati setiap waktu saat aku mandi, tidak jarang aku menghabiskan waktuku hanya sekedar untuk mandi. Hanya ini yang mampu aku lakukan untuk meremajakan kulitku, sekarang hidupku sudah tidak seperti dulu lagi. Semenjak ayah meninggal ekonomi keluargaku kian hari kian kacau, jangankan untuk pergi “Spa” untuk membeli obat yang harus diminum Uma saja kadang uang itu tidak bersisa. Uang ini kami peroleh dari tunjangan yang ayah peroleh setiap bulan dari kantornya.

Aku berlari menuju kamar, mataku memperhatikan seluruh isi kamar, mencari barang yang mungkin bisa membantuku mengeringkan rambutku, sesekali aku membuka aku membuka laci meja,  siapa tau aku menaruhnya disana.

“ disini tidak ada.. disini juga tidak ada.. dimana aku menaruh benda itu ?

“ apa ini yang kau cari ? sambil memberikan hair dryer baru kepadaku

“ Uma.. bagaimana bisa, tentu saja bisa sudahlah cepat keringkan rambutmu sebelum kaukedinginan

“ gumawo… Uma

____________________________

10.00 AM

Dingdong… dingdong… dingdong

“ iya sebentar

” 10.00 tepat !

“ waw.. hebat, apa kau selalu ONTIME saat akan bertemu dengan geyoja..

“ geyoja ? siapa yang kau maksud, aku ingin bertemu dengan Uma bukan dirimu..

“ bocah ini, menjadikan seorang Eoma sebagai alasan.. benar-benar tidak masuk akal

“ merong-merong wlek, sambil menjulurkan lidahnya keluar

“ ada apa ini kenapa ribut-ribut, Uma yang datang menggunakan sebuah pisau ditangan kananya membuat kami benar-benar ketakutan

“ mianhae Uma, jangan bunuh kami, kami akan tenang , jawabku sambil memberi kode kepada Wooyoung agar menyetujui pernyataanku

“ iya Uma, jagan bunuh kami, kami masih terlalu muda. Jangan jadikan kami sub wortel

“ apa maksud kalian, siapa yang akn membunuh kalian. Uma baru akan memasak sub gingseng, gingsengnya ada didepan rumah jadi uma harus memotongnya sekarang.

“ aku kira Uma akan membunuh kami dengan pisau itu

“ apa Uma sebodoh itu hah, oh iya ini siapa sepertinya Uma tidak pernah melihatnya ?

“ Jang Wooyoung imnida

“ Jang Wooyoung ?

“ ne.. aku yang menlpon Uma tadi pagi, Uma ingat kan

“ iya, kau sudah besar sekarang, bagaimana kabar orang tua mu

“ ehm.. mereka baik baik saja Uma..

“ oh iya, apa aku boleh mengajak Ji Eun keluar sebentar

“ boleh saja, tapi kalian harus menghaiskan sub gigseng dulu.. bagaima setuju..?

“baik Uma..

_______________________________

Panci besar yang hampir mirip soblok jika di indonesia, berisi penuh sub gingseng, asap yang masih mengepul dari dalam panci menandakan kalau sub ini baru saja matang ditambah dengan aroma gingseng yang harum membuat perutku semakin lapar.

“ silahkan dimakan, ucap Uma sambil menghidangkan sub itu keatas meja

“ sebanyak ini ?

“ bukankah ini janji kalian tadi, jika sub ini habis maka kalian boleh pergi sepuasnya.

“ benarkah, sepusnya ?

” ne.. tapi kalian harus pulang sebelum jam 09.00 malam

“ OK.

Satu mangkuk besar berisi sub gingseng telah aku habiskan begitu juga dengan Wooyoung. Namun masih tersisa setenga panci, mata kami saling bertatapan mengisyaratkan kalau kami sudah benar-benar kenyang. Aku sedikit khawatir jangan-jangan Uma tidak akan mengizinkan kami pergi. Entah kebetulan atau ikatan batin yang begitu kuat, Uma dapat merespon pikiranku, walaupun aku tak melontarknnya secara langsung.

“ baiklah kalian boleh pergi, tapi saat kalian kembali nanti kalian harus menghabiskan sisanya. OK

“ haruskah Uma…

“ tentu saja harus, janji adalah hutang dan hutang harus dibayar, jadi kalian harus menghabiskannya.

“ehm.. baiklah aku akan mematuhinya, jawab Wooyoung bersemangat

__________________________

“ Ok. Sekarang kita mau kemana ? ucapku sambil memandang Wooyoung penuh harapan

“ bagaimanakalau kita ke taman bermain

“ untuk apa kita kesana, bukankah disana banyak berkeliaran badut-badut aneh yang menakutkan

“ menakutkan, bukankah mereka sangat lucu,

“ itu kan menurutmu, bagiku badut itu sama saja seperti monster yang ada dalam film Mr. X, mereka menakuti semua orang, memakan anak kecil, ganas, dan tidak berperi kemanusiaan

“ heh, memang ada adegan seperti itu, bukankah disana mereka bertindak baik.

“ah terserah kau saja, sekali monster tetap monster. Sekalipun mereka bertingkah baik mereka tetap jadi monster tidak berubah.

“ OK, tapi bisakah kita pergi ketaman bermain

“ tapi dengan satu syarat !

“ mwo..

“ kau harus tetap berdiri didepanku, dan jika ada badut yang mendekat kau harus langsung mengusirnya. Setuju !!

“ setuju

Jarak untuk sampai ke taman bermain sekitar 110 KM, ataiu sekitar 1,5 jam jika ditempuh mengunakan mobil. Kini mobil ber-plat JN 0430 WY melaju dengan kecepatan tinggi dijalan kota Seoul. Mobil yang bermerek HYUNDAI berwarna biru keluaran terbaru ini dilengkapi dengan atap yang bisa dibuka, mobil ini terlihat semakin keren dengan sentuhan desainer dari Italy.

__________________________

Wooyoung POV

Anak kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan manis. Tidak sia-sia aku menunggunya sampai sekarang. Benar-benar tidak kubayangkan sebelumnya bisa duduk sedekat ini dengannya. Melihatnya tersenyum benar-benar membuatu bahagia, walaupun beban yang ditanggungnya sangat banyak tapi gadis ini tetap bertahan dengan kehidupannya sekarang. Aku benar-benar kagum dengan semangatnya, tak pernah menyerah biarpun semua tenaganya sudah terkuras habis.

“ sebentar lagi ulang tahunmu bukan, kau minta hadiah apa diariku ? ucapku sambil terus menyetir

“ aku tidak menginginkan sesuatu darimu, aku hanya ingin kau tetap ada disini

“ benarkah, akanku coba mengabulkan permintaanmu

Gadis itu menganguk tegas, sambil sesekali tersenyum saat melihatku. Raut mukanya yang sedikit tegas namun masih terlihat lembut membuatnya kelihatan sangat cantik, ditambah dengan balutan kaos berwarna pink dan celana pendek berwarna biru muda, kelihatan sangat manis.

“ sekarang kita sudah sampai, kau mau masuk kemana dulu ?

“ Oppa bisakah kau menyingkirkan badut itu dulu,

“ ehm baiklah.. bagaiman kalau kita membeli popcorn dulu lalu masuk gedung teater

“ benarkah, tapi singkirkan badut itu dulu

“ iya-iya..

____________________________

07.00 PM

Ji Eun POV

“ apa kita harus pulang sekarang ?

Aku melirik kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari yang sangat menyenagkan pikirku, hari dimana aku bisa tertawa bebas, dan bermain bersama orang yang sangat kurindukan.

“ah.. 07.00 kita membutuhkan 1,5 jam untuk pulang. Tapi masih tersisa 30 menit sebelum pukul 09.00 malam

Ditengah-tengah kebingunganku hanphone yang-ku pegang tiba-tiba berbunyi. Sebuah panggilan dari Uma menambah kebingunganku.

“ Yeoboseyo,

“ bisakah kau membelikan Uma, teh hijau ditempat biasa ..?

“ ne..

“ ingat pulang sebelum jam 09.00

” ne..

“ sepertinya kita harus pulang sekarang ? ucap wooyoung saat aku mematikan ponselku

“ ne.. tapi bisakah kita mampir ke toko teh disebelah perempatan, Uma memintaku membelian sebungkus teh hijau.

“ OK

Mobil HYUNDAI itu kembali melesat menyusuri jalanan kota Seoul. Dan berhenti tepat didepan sebuah toko teh milik seorang warga cina bernama CHO LIONG CO.  Aku bergegas turun untuk membeli sekotak teh hijau yang dipesan ibuku. Lalu aku masuk kembali kemobil untukmelanjutkan perjalanan pulang.

Begitu aku sampai didepan rumah, Uma sudah menungguku didepan pintu gerbang, sambil menenteng sebuah tempat sub yang berukuran agak besar. Uma menyodorkan Tempat sub itu pada Wooyoung, dan menyuruhnya untuk diberikan pada orang tua Wooyoung

————————————————————

Wooyoung POV

Tinggal 10 hari lagi sebelum ulang tahunJi Eun yang ke-17. Tapi belum satu hadiahpun terlintas dibenakku, apa yang harus aku berikan padanya. Hampir semua toko di Seoul sudah ku-masuki tapi seakan tidak ada satu barang pun yang bagus untuknya.

Setiap hari aku mencoret kalender agar aku tidak lupa kapan Ji Eun akan berulang tahun. Sekarang tinggal 5 hari lagi. Tapi masih belum ada hadiah untuknya. Mencari hadiah untuknya, seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami. Begitu sulit !

Hari ke-9, besok pagi adalah hari yang aku tunggu, aku sudah menemukan hadiah yang pas untuknya dan mempersiapkan sebuah pesta kecil untuknya.  Jaket berwarna pink dengan ornamen beruang di saku kirinya akan menjadi hadiah ulang tahun ke-17 Ji Eun. Aku terus memandangi jaket yang ada digengaman tanganku ini, berusaha mencari bungkus kado yang pas untuk hadiah ini. Pelayan toko menyarankanku untuk membungkusnya dengan ketas berwarna ungu dengan tambahan pita berwarna biru muda diatasnya.

Tiba-tiba handphone samsung berwarna hitam yang ada digengamanku berdering dengan keras, sebuah telfon dari Ayahku. Seseorang yang teropsesi dengan pekerjaan atau lebih tepatnya dengan uang, baginya keluarga hanya hiburan sesaat untuk melengkapi hidupnya. Entah apa yang sebenarnya Ayah fikirkan, semua yang beliau lakukan pasti berhubungan dengan uang. Awalnya aku berfikir untuk tidak mengangakat telpon ini, namun fikiranku berubah saat aku mengingat Ji Eun. Dia sangat merindukan ayahnya, ayah yang tak dapat ia temui lagi sekarang. Jadi aku memutuskan untuk mengangkatnya.

“ Yeoboseo, ne Appa

“ kau harus melanjutkan kuliahmu ke Italy, kau akan berangkat besok, pesawat akan take off         pukul 10.30, kemasi barang-barangmu, siapkan apa saja yang kau butuhkan disana

“ mwo, untuk apa, bukankah disini banyak Universitas ternama, kenapa aku harus jauh-jauh pergi ke-Italy?

“ ini untuk kebaikanmu, terlebih untuk masa depanmu !

“ mwo ? kebaikan ? apa ayah pernah memikirkanku, kehidupanku disini sudah cukup nyaman, aku tidak mau kuliah ke- Italy !

“ apa ini yang kau tunjukan kepada ayah, apa aku mencari uang hanya untuk membuatmu bermalas-malasan seperti ini ?

“ aku bukan bermalas-malasan ! aku akan kuliah di Universitas Parang ! kalau perlu aku akan membiayai kuliahku sendiri !

“ jangan menambah buruk keadaan, apa ayah perlu mengirim pengawal untuk menjemputmu !

“tapi ayah, aku tidak mau !

Tiba-tiba telpon itu mati, telpon itu seolah mengisyaratkan bahwa aku harus meninggalkan Ji Eun lagi, kali ini apa aku harus mengatakan padanya.  Jika aku mengatakannya mungkin dia tidak akan membiarkan aku pergi, tapi jika aku tidak mengatakannya apa dia akan memaafkanku. Ini benar-benar pilihan yang sulit, di satu sisi aku memang harus mematuhi kata-kata ayah, tapi disisi lain aku harus memikirkan perasaan seorang gadis yang benar-benar aku sukai. Lama-lama kepalaku bisa meledak jika memikirkan semua hal ini.

_____________________________________

Keesokan paginya.

05.00

“ Yeoboseo

“ ada apa pagi-pagi begini menelponku, apa kau berubah pikiran

“ ne, aku akan menuruti semua perintah ayah tanpa melawan. Tapi apa aku boleh meminta satu tiket pesawat lagi untuk pergi ke-Italy

“ untuk siapa ?

“ untuk salah seorang temanku, apa boleh ayah ?

“ apa dia seorang geoja

“ ne,

“ apa dia pacarmu ? siapa namanya ?

“ bukan, dia salah seorang teman dekatku ! namanya Lee Ji Eun !

“ mwo, Lee Ji Eun ? siapa nama orang tuanya

“ Lee Jae Yoon dan Park Min Ri

“ mwo ? dimana mereka tinggal

“ di Busan, sekitar 4 kilometer dari pantai. Apa ayah mengenal mereka

“ ne.. mereka adalah teman baik ayah waktu di Universitas, mereka yang selalu membantu ayah saat ayah dalam kesusahan !

“ benarkah, jadi apa ayah bisa membantu mereka, sekarang perekonomian mereka sedang kacau, ibu Ji Eun juga sering jatuh sakit

“ mwo ? baik ayah akan membantu mereka ! ayah akan mengirim 2 orang pembantu untuk membantu kehidupan mereka dan memberikan asuransi kesehatan untuk  Park Min Ri

“ benarkah ? gumawo Appa

“ ini bukan apa-apa dibandingkan bantuan mereka dulu. Kau juga arus menjaga putrinya jangan sampai dia jatuh sakit saat berada di-Italy

“ baik, aku akan menjaganya Appa.

Seorang ayah yang lebih mementingkan uang dari pada keluarganya bisa memikirkan orang lain. sangat menakjubkan! Terlebih ini adzlah keluarga Ji Eun. Ayah yang begitu keras pada anaknya luluh seketika saat mendengar nama seorang yeoja.

__________________________________________________

05.30

Kabar bagus! Aku akan merubah sekenario pesta kejutan untuk Ji Eun. Aku akan menelpon Uma  untuk memintakan izin serta memintanya untuk mengemasi beberapa baju untuk dipakai Ji Eun saat di-Italy. Semoga Uma mengizinkan Ji Eun pergi bersamaku untuk beberapa hari ini !

“ Yeoboseo, ada apa ? kenapa kau menelpon Uma pagi-pagi begini ?

“ mianhae Uma, aku ingin mengatakan sesuatu pada Uma, apa boleh ?

” ne.. katakanlah ..

“ tadi malam Appa menelponku, beliau mengatakan kalau hari ini aku  akan dijemput ke-Italy untuk melanjutkan kuliahku disana ! bukankah saat ini siswa SMA sedang libur sekolah? Aku berencana untuk membawa Ji Eun ke-Italy untuk beberapa hari !

“ MWO ?!! bukankah itu sangat jauh, pasti biayanya juga mahal ?

“ aku yang akan menanggung semua biayanya, mulai dari berangkat sampai Ji Eun pulang. Kumohon perbolehkan Ji Eun pergi bersamaku Uma..

“ apa Ji Eun mau, aku harus bertanya padanya terlebih dahulu ?

“ JANGAN !! ini rahasia, ini adalah bagian dari pesta kejutan untuk Ji Eun. Aku akan mengatur semuanya, Uma persiapkan saja beberapa baju untuk dia bawa disana. Nanti supirku akan mengambil koper itu

“ tapi apa tidak apa-apa ?

“ tidak apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab akan semua hal ini ! jangan katakan apapun pada Ji Eun. Gumawoyo~

“ne.. seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena kau telah mempersiapkan ini semua.

“ne.. OK, Uma! Annyeong

Rencana pertama berhasil. Rencana kedua akan dimulai. Pertama aku harus menelpon Ji Eun aku harus memberitahunya kalau hari ini aku akan pergi ke-Italy. Kelihatannya jahat tapi ini akan berakhir dengan sempurna.

“ Yeoboseo

“ ne.. Oppa

” Ji Eun-ah bolehkah aku mengatakan sesuatu pada mu..

“ ne.. go malhaessda

” nanti siang aku akan berangkat ke-Italy, tepatnya pukul 10.00

“ mwo ? untuk apa

” aku harus melanjutkan kuliahku disana

“  oh.. untuk berapa lama ?

“ entahlah sepertinya memerlukan waktu yang cukup lama !

“ ehm.. ne.. haruskah sejauh itu

“ ne..

“ tidak bisakah kau kuliah di Universitas Parang atau yang lainnya

“ sepertinya tidak, ini permintaan ayahku.. jadi aku harus pergi

“ ah.. aku mengerti,

“ are you Ok

” yes, I’m Ok, kau akan pergi kebandara mana ?

“ incheon !

” owh, jam 10.00 ya, apa kau melupakan sesuatu

“ mwo ? ah.. I-Pad ku, tunggu sebentar aku akan mencarinya

“ I-Pad ? aish.. sudahlah aku tutup saja telpon ini !

” ya.. kau ini kenapa ?

“……………

“ ya kenapa dia yang memutus telponnya, apa rencana ini akan gagal ! aish sudah sejauh ini !

Tanpa sadar aku membanting hanphoneku ke kasur yang ada disampingku. Aku befikir untuk menelpon Ji Eun sekali lagi untuk meminta maaf padanya dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tapi kupikir sekarang belum tepat sebaiknya nanti saja saat marahnya sudah mereda.

————————————

07.30

Ji Eun POV

Kenapa dia bisa lupa hari ulang tahunku sungguh keterlaluan, bukannya memberi selamat malah mau pergi begitu saja. Kalau pada akhirnya dia harus pergi lagi kenapaaku harus bertemu denganya lagi. Ini benar-benar menjengkelkan.

Tok..tok..tok,

“Ji Eun-ah cepat makan !

“ aku tidak nafsu makan !

“ mwo ? apa ada masalah ?

“ ani..

“ benarkah ? apa karna namja itu akan pergi ?

“ mwo ? darimana Uma tau ?

“ dia yang memberitahuku ! kau menyukainya kan ?

“ anieyo ..

“ ehm baiklah, terserah kau saja ! dia akan pergi hari ini, susulah dia dibandara

“ tidak mau.. dimana hargadiriku, jika aku menyusulnya kebandara

“ mwo ? kau masih memikirkan hargadiri, kau ini memang tidak pernah berubah ! tapi jangan salahkan uma jika kau tidak bisa melihatnya lagi

“ ya.. kenapa Uma seperti itu, aku memang menyukainya ! jadi aku harus melakukan apa ?

“ pergi ke-Bandara Incheon !

“ untuk apa, bukankah dia tetap akan pergi ! itu tidak akan merubah keputusannya

“ memang, tapi setidaknya kau bisa melihatnya untuk terakhir kalinya

“ bukankah itu akan memperburuk keadaan ! aku melihatnya pergi tapi apa aku bisa melihatnya kembali ?

“ kenapa anak Uma keras kepala seperti ini ! sebaiknya kau mandi sekarang

“ ehm.. baik Uma

Aku melangkahkan kakiku dengan berat menuju kamar mandi, aku memandang diriku sendiri didepan kaca kamar mandi, sambil sesekali memikul-mukul kepalaku dengan gemas

“ apa aku harus pergi ! pergi, tidak, pergi , tidak, pergi …………………………….

Ah, aku bungung  !!!

__________________________________

Aku masih bingung akan pegi atau tidak ! tapi Uma terus memaksaku untuk pegi ! di satu sisi aku tidak ingin melepasnya pergi, tapi disisi lain aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali. Jadi aku harus memilih yang mana ?

Tuuuut..

Ditengah kebingunganku tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil yang diikuti suara langkah kaki Uma yang kian mendekat dimana aku berada.

“ Ji Eun-ah cepat, TAXI itu sudah menunggumu dari tadi !

” memangnya aku harus pergi kemana ?

Dengan cepat Uma menarikku dari posisiku yang sedang duduk didepan jendela menjadi setengah berlari dibelakangnya. Sesampainya didepan pintu TAXI Uma langsung mendorongku masuk kedalam, Uma juga membanting pintu TAXI sambil mengatakan pada sopirnya untuk membawaku ke Bandara Incheon ! benar-benar memalukan pikirku, hanya untuk melihat kepergian seorang namja saja Uma harus seperti ini,  tidak masuk akal.

Lalu sopir TAXI itu mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumahku, dan meninggalkan seorang Eoma yang masih terus melambaikan tangannya kearah mobil ini. Semakin lama bayangan Eoma itu kian tidak terlihat. Suasana didalam TAXI masih hening,  aku lebih memilih diam sambil sesekali melemparkan pandanganku kearah kaca yang dekat dengan si pengemudi mobil ini.

“ nona sepertinya kau akan bepergian jauh !

“ ani.. aku hanya akan kebandara untuk mengantarkan seorang temanku ke-Italy.

“ apa nona akan ikut ke-Italy ?

“ tentu saja tidak, untuk apa aku ikut bersamanya ? orang yang dua kali meninggalkanku untuk  kepentingannya sendiri,

“ apa nona yakin kalau dia meninggalkanmu hanya untuk kepentingannya sendiri ?

“ ani… ini hanya pendapatku

“ jadi kenapa nona menuduhnya seperti itu, sebaiknya nona tanyakan dulu padanya ?

“ untuk apa ? tidak ada gunanya!

“ tentu saja untuk memastikannya ! apa kau selalu menuduh orang lain seperti ini, hah ?

“ kenapa kau membentakku, kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini !

Cittttt…

Begitu aku menyelesaikan kalimatku yang terakhir supir TAXI ini langsung mengerem mobilnya yang semula melaju dengan kecepatan tinggi, hingga kepalaku membentur kursi yang ia duduki.

“ ya.. apa yang kau lakukan ? ini benar-benar keterlaluan !

Sopir itu tidak menjawab satu patah kata pun, dia hanya terpaku ditempat duduknya. Tiba-tiba sopir itu menengok kearahku sambil membuka topi yang dari tadi melekat dikepalanya. Penyamaran yang sempurna batinku, hanya dengan sebuah topi aku hampir tak mengenalinya sama sekali.

” sebesar itukah rasa bencimu padaku

“ ne.. !

“ OK. Fine! Lalu aku harus bagaimana sekarang ?

“ entahlah,

Namja ini tidak membalas kata-kataku malah membuka pintu dan membantingnya dengan keras. Lalu ia menyandarkan badanya pada pintu mobil ynag baru saja ia banting. Mataku terus menatapnya dengan perasaan tidak percaya. Aku berfikir mungkin ini lah dirinya yang sebenarnya, begitu keras kepala dan tidak memikirkan orang lain.

Pintu mobil yang ada disampingku tiba-tiba terbuka, seorang namja yang sangat aku kenal muncul dari balik pintu mobil dan menatapku penuh dengan kelembutan. Semula aku tidak memperdulikannya sama sekali, bahkan aku malah memalingkan pandanganku kearah yang berlawanan. Saat namja itu duduk disampingku, aku masih terpaku pada posisiku sekarang. Hingga aku merasakan kedua tangan namja itu memegang kepalaku dan memutar kepalaku dengan lembut kearahnya. Sejenak aku menatap matanya yang sipit itu, hatiku mulai luluh ketika aku menatap matanya. Namun aku tetap berusaha untuk menyembunyikan perasaanku ini. Aku memalingkan wajahku ke arah yang lain lagi. Dan lagi-lagi tangannya memegang kepalaku dan mencoba memutarnya kembali kearahnya , kali ini aku takut gagal menatasi perasaanku sendiri jadi menahan kepalaku agar tidak bisa melihat matanya lagi.

Aku merasakan sebuah cairan mengenai tanganku, perlahan aku menoleh kearah namja yang ada disampingku, aku melihat dia tertunduk sambil sesekali meneteskan air mata.

“ Oppa-ya, ada apa denganmu ? apa hanya sampai disini per….

Berlum selesai aku bicara namja ini memegang kedua bundakku dan mendorongnya kearah belakang, karena takut dengan perlakuannya aku pun menutup kedua mataku. Dan saat aku membuka mataku, aku melihat mataku sangat dekat dengan matanya, bahkan lebih parahnya lagi bibir kami hampir tidak berjarak lagi. Kali ini aku tidak bisa menahan perasaanku lagi, aku mulai meneteskan air mata hingga membuat namja didepanku ini melepaskan kedua tangannya  dan menyingkir ke posisinya semula.

Aku masih diam dalam posisiku, mencoba menata hatiku yang tidak karuan ini. Air mataku terus mengalir hingga membasahi kedua tanganku. Namja yang berada disampingku juga masih larut dengan kebingungannya sendiri. Aku ingin menanyakan apa maksud dari semua ini, namun bibiku rasanya tidak mau digerakkan hingga akhirnya aku hanya bisa tertunduk sambil menangis.

“ Ji Eun-ah ..

Aku mulai mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk, perlahan aku mulai menatap sesosok namja yang ada disampingku ini. Kedua tangannya mengusap air mata yang terus mengalir di kedua pipiku. Saat seperti ini dia benar-benar terlihat dewasa, dan  saat dia tersenyum padaku wajahnya berubah seperti seorang malaikat.

“ Ji Eun-ah..

“ Wooyoung-ssi, kenapa kau melakukan ini

“ mwo?

“ kenapa kau melakukan hal sejauh ini

“ molla, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku dengan lebih jelas !

“ haruskah dengan cara itu, tidak adakah cara yang lain.

“ dengan suasana seperti ini, inilah cara paling tepat

“ mwo?

“ bukankah ini wajar untuk anak seusia kita, kau juga sudah cukup dewasa intuk mengalami hal ini.

“ aniyo.. aku masih terlalu kecil intuk mengalami hal semacam ini

Kini kami kembali diam dalam kebingungan masing-masing, aku yang masih bingung dengan perlakuan Wooyoung kepadaku akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium pipi Wooyoung. Dia yang masih kebingungan hanya menatapku sambil tersenyum.

“ gumawo Oppa, kau sudah membuatku menjadi lebih dewasa.

“ araseo..

“ em…

“ Ji Eun-ah, bukankah kau sedang libur sekolah

“ ne..

” apa kau mau ikut denganku kesuatu tempat, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu

“ kemana ? aku akan menelpon Umma dulu, aku akan meminta izin padanya

“ ke suatu tempat yang sangat indah, tadi aku sudah meminta izin pada Umma, dan dia memperpolehkanmu pergi, jadi kau tidak perlu khawatir

“ benarkah.. gumawo Oppa-ya

“ araseo

Mobil yang aku tumpangi kembali berjalan dengan kencang, meski aku belum tau akan kemana tapi aku akan mengikuti langkah namja ini.

T.B.C

Ditunggu ya buat kelanjuta dari FF ini,

Di cerita selanjutnya aku akan ngegambarin suasana dan tempat-tempat di Italy, kayak yang di MVnya IU yang PEACH. Jadi tunggu kelanjutannnya ya.

jangan lupa kasih kritik and saran buat FF ini..

gumawo~

Advertisements

4 thoughts on “Remember Me..

  1. eon -____- kok TBC sih…
    endingnya jadi kyk yg ku critain gk? gimana nasibnya si teddy bear?
    oh,, ya eon!! kemarin saia beli bollpen gmbar ayam yg ada tlsan woo kyak pny mu, *plak #bantingtopik
    ya udh, deh sgitu aj koment ku. saia mau kabur sma Sehun dulu yah, bye~bye~

    -regard :Kiki Kim-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s